PolitikPos.Com
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Partai Politik
  • Pemilu & Pilkada
  • Isu
  • Opini
  • Figur
No Result
View All Result
PolitikPos.Com
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Partai Politik
  • Pemilu & Pilkada
  • Isu
  • Opini
  • Figur
No Result
View All Result
PolitikPos.Com
No Result
View All Result
Home Ekonomi Bisnis

Impor Daging dan Susu Thailand Berpotensi Ganggu Neraca Perdagangan RI

admin by admin
August 5, 2026
in Ekonomi Bisnis
0
Impor Daging dan Susu Thailand Berpotensi Ganggu Neraca Perdagangan RI
74
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Tawaran Thailand untuk meningkatkan impor pupuk Indonesia sebagai imbalan akses ekspor daging dan susu dinilai belum menciptakan hubungan dagang yang seimbang. Ekonom memperingatkan skema ini berisiko memperdalam defisit perdagangan bilateral yang telah berlangsung sejak 2011.

You might also like

PHK di Indonesia Tembus 53.490 Orang hingga Agustus 2026, Juni Jadi Bulan dengan Laporan Tertinggi

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.731 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

BUK Migas Bakal Langsung di Bawah Presiden, Bahlil Ungkap Target dan Peran Barunya

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia Mohammad Faisal mengkritisi struktur komoditas yang dipertukarkan dalam skema tersebut. Indonesia akan mengekspor barang input produksi sementara harus mengimpor barang konsumsi jadi dari Thailand.

“Ini tidak terlalu seimbang menurut saya. Bukan kita lihat dari value-nya saja, tetapi lihat dari jenis barangnya. Kalau kita mengimpor daging dan susu, itu umumnya adalah bahan pangan untuk kebutuhan konsumsi, sementara kalau kita mengekspor pupuk, pupuk itu adalah untuk kebutuhan aktivitas produksi,” ujar Faisal dikutip dari Bisnis.com, Rabu, 5 Juli 2026.

Perbedaan jenis komoditas ini menghasilkan dampak pengganda yang berbeda terhadap perekonomian. Ekspor pupuk memberikan nilai tambah bagi aktivitas produksi di Thailand, sedangkan impor daging dan susu hanya memenuhi kebutuhan konsumsi domestik tanpa efek berganda signifikan.

“Jadi kita mengekspor barang input, sementara kita mengimpor barang jadi, barang konsumsi. Itu berhubungan dengan multiplier effect dari apa yang kita impor dan juga apa yang diekspor ke Thailand,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia konsisten mencatat defisit perdagangan dengan Thailand sejak 2011. Pada 2025, defisit menyempit menjadi US$140,6 juta dengan ekspor US$8,77 miliar dan impor US$8,91 miliar.

Kondisi itu membaik dibandingkan 2024 ketika defisit mencapai US$2,02 miliar. Namun tren negatif masih berlanjut dengan defisit US$3,03 miliar pada 2023 dan US$2,79 miliar pada 2022.

Faisal mengingatkan pemerintah perlu mencermati kondisi neraca perdagangan yang selama ini masih defisit. Impor berbagai komoditas pangan dari Thailand terjadi karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi.

“Selama ini kita perdagangan dengan Thailand kan sudah defisit. Kita banyak mengimpor hasil-hasil bahan pangan produk pertanian, yang sebetulnya karena kita tidak cukup produksi di dalam negeri, mengimpor itu sebagai sebuah konsekuensi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri,” tuturnya.

Faisal menekankan impor sebaiknya dilakukan sebagai pilihan terakhir ketika pasokan domestik tidak mencukupi. Pemerintah harus memprioritaskan penyerapan produksi dalam negeri sebelum membuka keran impor dari negara manapun.

“Jadi tentu saja itu harus dilakukan dengan rule of thumb-nya tadi. Kita memprioritaskan pemanfaatan atau penyerapan daripada produksi di dalam negeri dulu, kalau tidak cukup baru mengimpor,” imbuhnya.

Pemerintah juga perlu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum memutuskan sumber impor. Apabila terdapat banyak negara pemasok, pemerintah sebaiknya memilih produk yang paling kompetitif dari sisi harga maupun kualitas.

“Selama ini saya melihat memang Thailand kita banyak defisitnya karena kita mengimpor bahan pangan, juga karena faktor harga. Kalau impor daging dan susu dibuka, produk Thailand harus lebih kompetitif dibanding Australia atau Selandia Baru,” lanjut Faisal.

Kerja sama dengan Thailand juga tidak boleh menghambat agenda pemerintah meningkatkan produksi peternakan nasional. Peningkatan kapasitas produksi daging dan susu dalam negeri harus tetap menjadi prioritas utama.

“Tetap dengan mendorong produksi daging dan susu di dalam negeri. Itu yang perlu juga diperhatikan jangan sampai tidak sinkron dengan upaya peningkatan kapasitas produksi di dalam negeri, ini kan kaitannya dengan program pembangunan sektor peternakan,” tandasnya.

Share30Tweet19
admin

admin

Recommended For You

PHK di Indonesia Tembus 53.490 Orang hingga Agustus 2026, Juni Jadi Bulan dengan Laporan Tertinggi

by admin
September 25, 2026
0

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menjadi perhatian dalam dinamika ketenagakerjaan Indonesia sepanjang 2026. Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menunjukkan sebanyak 53.490 pekerja melaporkan terkena PHK melalui Sistem Jaminan...

Read more

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.731 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

by admin
September 17, 2026
0
Rupiah Menguat ke Rp17.792 per Dolar AS, Jadi Kado HUT RI ke-81

Nilai tukar rupiah kembali bergerak di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, 16 September 2026. Mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp17.731 per dolar Amerika Serikat (AS). Mengacu...

Read more

BUK Migas Bakal Langsung di Bawah Presiden, Bahlil Ungkap Target dan Peran Barunya

by admin
September 17, 2026
0

Pemerintah mulai mematangkan rencana pembentukan Badan Usaha Khusus Minyak dan Gas Bumi (BUK Migas). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan lembaga baru tersebut nantinya...

Read more

PLTP Gunung Ungaran Dinilai Bisa Tekan Emisi dan Buka Peluang Ekonomi Warga

by admin
September 16, 2026
0

Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran, Jawa Tengah, dinilai memiliki peluang untuk memberikan manfaat ganda. Selain menambah pasokan energi dari sumber terbarukan, proyek tersebut...

Read more

25 Merek Beras Fortifikasi Ditertibkan, Begini Cara Konsumen Mengenali Produk yang Sesuai Standar

by admin
September 15, 2026
0

Masyarakat diminta lebih teliti saat membeli beras yang dipasarkan sebagai produk fortifikasi. Pemerintah menemukan puluhan merek yang diduga tidak memenuhi kandungan dan mutu sebagaimana tercantum pada label kemasan....

Read more
Next Post
Harga Buyback Emas Antam Makin Tinggi, Naik Rp151 Ribu Sejak Awal 2026

Harga Buyback Emas Antam Makin Tinggi, Naik Rp151 Ribu Sejak Awal 2026

Related News

Obama Soroti Bahaya AI yang Berkembang Cepat, Minta AS Segera Siapkan Aturan

September 13, 2026
Golkar Nonaktifkan Adies Kadir dari Anggota DPR RI

Golkar Nonaktifkan Adies Kadir dari Anggota DPR RI, Terkait Polemik Tunjangan

December 16, 2025

Nusantara Explorer Diluncurkan 28 September, Begini Isi Kereta Mewah Buatan KAI

September 24, 2026

Browse by Category

  • Advertorial
  • Berita-Pilihan
  • Ekonomi Bisnis
  • Finance
  • Hukum Kriminal
  • Internasional
  • Isu
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Matra
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Teknologi
PolitikPos.Com

Menyajikan informasi politik terkini dan kredibel. Kami hadir untuk mengurai setiap narasi, memastikan pembaca memahami isu, serta membongkar esensi di balik kebijakan yang mempengaruhi bangsa.

CATEGORIES

  • Advertorial
  • Berita-Pilihan
  • Ekonomi Bisnis
  • Finance
  • Hukum Kriminal
  • Internasional
  • Isu
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Matra
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Teknologi

BROWSE BY TAG

Bank Riau Kepri Syariah bencana alam brk BRKS BRK Syariah btn ekonomi hukum Kriminal Matra mbg nasional organisasi SPPG Yuridis

Copyright © 2025 PolitikPos.com. All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Partai Politik
  • Pemilu & Pilkada
  • Isu
  • Opini
  • Figur

Copyright © 2025 PolitikPos.com. All Rights Reserved.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?